Ramai Pajak Digital 9 November: Perluasan Sistem, Bukan Pajak Baru!
![]() |
| ramai dibincangkan |
Keriuhan ini langsung memicu pertanyaan dan kecemasan di tengah masyarakat. Apakah transfer antarbank akan dipotong pajak? Apakah pembayaran QRIS di warung belanja atau isi saldo dompet digital juga akan dikenakan pungutan tambahan?
Fakta di Balik Keramaian: Ini Perluasan Sistem
Untuk meredam kesalahpahaman, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) Kementerian Keuangan menegaskan bahwa langkah ini bukan pengenaan jenis pajak baru. Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat DJP, Inge Diana Rismawanti, meluruskan bahwa yang terjadi per 9 November 2026 adalah perluasan implementasi dari Sistem Pemungutan Pajak atas Transaksi Digital Luar Negeri (SPP-TDLN).
Sebelumnya, DJP memang telah memberikan waktu transisi hingga November bagi sekitar 30 calon platform perbankan dan fintech domestik untuk menyiapkan sistem interkoneksi mereka. Sistem ini dirancang bukan untuk memajaki aktivitas digital lokal, melainkan untuk membantu memungut PPN atas pemanfaatan produk, aplikasi, atau layanan digital yang dibeli konsumen dari luar negeri (PMSE).
Jadi, yang ramai diperluas adalah pihak pemungutnya (sistem perbankan/fintech lokal) agar terintegrasi, bukan memperluas objek pajaknya ke transaksi harian Anda.
Daftar Transaksi yang Dipastikan Aman
Agar tidak terjadi kepanikan yang keliru, DJP memastikan penerapan mekanisme SPP-TDLN ini sama sekali tidak mengubah tarif PPN standar ataupun menyasar seluruh transaksi domestik. Berikut kejelasannya:
- Transfer Uang & Remitansi: Aktivitas kirim uang personal antarbank maupun remitansi (pengiriman uang dari luar negeri oleh pekerja) tidak otomatis dikenakan PPN.
- QRIS & Belanja Domestik: Transaksi harian menggunakan QRIS atau dompet digital tetap bebas dari PPN. Pajak PPN hanya melekat pada biaya jasa teknologi yang ditagihkan kepada pedagang (merchant), bukan memotong nilai belanja atau saldo milik konsumen.
Melalui perluasan sistem ini, pemerintah justru mempermudah urusan administrasi konsumen. Pengguna layanan digital luar negeri yang memang wajib pajak tidak perlu lagi repot menyetor dan melaporkan pajaknya sendiri secara manual, karena sistem perbankan yang ditunjuk akan langsung mengurusnya di titik transaksi.
sumber bacaan: ikpi, liputan6-video, muc






