Krisis Uang Iran
![]() |
| mata uang |
Anjloknya nilai tukar rial berawal dari memburuknya kondisi ekonomi domestik Iran. Harga kebutuhan pokok melonjak tajam sedangkan pendapatan masyarakat tidak ikut naik. Nilai uang melemah dan inflasi melonjak, sehingga daya beli masyarakat runtuh. Gelombang protes yang meledak sejak 28 Desember 2025 awalnya dipicu oleh mahalnya harga pangan dan melemahnya rial, namun kemudian berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas, termasuk perubahan pemerintahan. Protes yang dimulai dari pedagang Grand Bazaar Tehran dan mahasiswa ini menyebar cepat ke seluruh 31 provinsi.
Penyebab paling fundamental dari kejatuhan rial adalah sanksi internasional, terutama sanksi Amerika Serikat setelah AS keluar dari perjanjian nuklir (JCPOA). Inflasi di Iran telah berada di atas 40% selama beberapa tahun, termasuk 42,5% pada akhir 2025. Di sisi lain, pendapatan negara Iran tertekan akibat sanksi dan lemahnya ekonomi, sedangkan belanja pemerintah tetap tinggi untuk subsidi energi, pangan, dan program sosial. Kondisi pendapatan pajak dan devisa tidak mencukupi, pemerintah dan bank sentral cenderung membiayai defisit melalui ekspansi uang beredar. Pencetakan uang tanpa dukungan pertumbuhan ekonomi kemudian meningkatkan inflasi.
sumber: metrotv, tirto







