Rincian Kesepakatan Damai AS-Iran Masih Rahasia
![]() |
| imbas pada pasar modal |
Pengamat militer dan geopolitik menyoroti kerentanan kesepakatan damai AS-Iran, terutama terkait potensi sabotase dari Israel dan tantangan menjaga gencatan senjata permanen. Meskipun memicu kekhawatiran geopolitik, deeskalasi ini diprediksi menstabilkan harga energi global, terutama dengan dibukanya kembali jalur pasokan di Selat Hormuz.
Kesepakatan sementara antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz mulai memicu reli aset-aset emerging market. Berdasarkan data Bloomberg, indeks saham negara berkembang MSCI Emerging Markets melonjak 2,8% dan mendekati rekor tertinggi yang sempat dicapai pada awal Mei 2026.
Co-Founder Pasardana & Pengamat Pasar Modal, Hans Kwee:
Selama konflik terjadi, investor cenderung meninggalkan emerging market dan memilih negara maju. Ketika perang mereda, tentu sentimen pasar menjadi lebih positif terhadap negara berkembang termasuk Indonesia
Hasil pembicaraan antara pihak adalah apa yang oleh teori resolusi konflik disebut negative peace (perdamaian negatif), yakni peperangan berhenti, tetapi ketidakpercayaan dan akar konflik tetap utuh. Bukti paling telanjang, status permanen program nuklir Iran dan pencabutan sanksi menyeluruh, tidak diselesaikan, melainkan ditunda ke periode negosiasi lanjutan selama 60 hari.
Media Kompas menulis: Lebih jauh, sejumlah analis mengingatkan satu hal mendasar bahwa ini bukan resolusi konflik, melainkan manajemen krisis. Dalam teori hubungan internasional, manajemen krisis adalah upaya menahan sebuah krisis akut agar tidak meledak menjadi perang terbuka. Fokusnya menghentikan kekerasan langsung dan menstabilkan situasi, bukan menyembuhkan akar permusuhan ideologis yang sudah berdekade.
sumber: detik, detik-finance, cnn-indonesia, kompastv-video, kontan, dw, kompas






