World Artificial Intelligence Conference 2026
![]() |
| keikutsertaan indonesia |
Presiden China, Xi Jinping:
Pengembangan AI tidak boleh menjadi panggung solo bagi satu negara saja, melainkan sebuah simfoni dari kerja sama internasional. Kita harus bersama-sama menentang sikap yang berlebihan dalam mengaitkan konsep keamanan nasional ddengan bidang AI, atau mengutamakan keamanan atau negara di atas keamanan negara lain
Pidato Xi ini tak lepas dari sikap Amerika Serikat dan Eropa yang membatasi impor teknologi asal China dengan alasan keamanan nasional. Di sisi lain, perseteruan antara Washington dan laboratorium AI di AS turut memicu pernyataan besar tentang siapa yang sebenarnya memegang kendali atas akses teknologi ini.
Kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) diproyeksikan menjadi salah satu teknologi yang akan menentukan arah pertumbuhan ekonomi dan daya saing global pada masa depan. Menyikapi perkembangan tersebut, Indonesia memperkuat peran dalam tata kelola AI global dengan menjadi Anggota Pendiri Organisasi Kerja Sama Kecerdasan Artifisial Dunia (World Artificial Intelligence Cooperation Organization/WAICO). Keikutsertaan Indonesia dalam pendirian organisasi tersebut merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat terbatas pada 13 Juli 2026 lalu, agar Indonesia berpartisipasi dalam Deklarasi Pendirian WAICO. Penandatanganan deklarasi tersebut dilaksanakan dalam rangkaian World Artificial Intelligence Conference (WAIC) 2026 di Shanghai, Republik Rakyat Tiongkok.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto:
Indonesia ikut merupakan komitmen untuk membangun tata kelola dan kaidah-kaidah pengembangan daripada kecerdasan buatan, terutama kita ikut agar pengembangan AI ini sifatnya inklusif dan bertanggung jawab, dan memberikan manfaat secara bersama
Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menilai persaingan global di bidang kecerdasan buatan (AI) tidak lagi bertumpu pada pengembangan aplikasi semata. Saat ini, kompetisi telah bergeser ke penguasaan infrastruktur pendukung seperti pusat data, energi, chip, komputasi, hingga talenta digital.
Wamenkomdigi, Nezar Patria:
Kita selama ini disibukkan bermain di hilir, tapi kita melupakan yang hulu. Padahal hilir itu cuma produk akhir yang mungkin lebih tepat buat negara-negara yang menjadikan dirinya sebagai pasar, sementara yang di hulu, infrastruktur AI ini sangat penting. Potensi Indonesia untuk masuk ke global supply chain itu cukup besar. Kalau kita lihat, untuk membuat semikonduktor dibutuhkan pasir silika. Ada kurang lebih 340 juta ton cadangan pasir silika di Indonesia
sumber berita: cnn-indonesia, ekon, wartaekonomi






