August 2021

13 August 2021

Aparatur Sipil Negara (ASN) Indonesia


 

asn
ASN Indonesia

Aparatur Sipil Negara (ASN) adalah tulang punggung birokrasi Indonesia. Sebagai pelaksana kebijakan publik, ASN memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan tata kelola pemerintahan yang efektif, transparan, dan bebas dari pengaruh negatif seperti radikalisme. Namun, di tengah upaya pemerintah meningkatkan tata kelola dan transparansi, ASN juga menghadapi berbagai tantangan, baik dari aspek internal maupun eksternal.   

Peringkat yang Membanggakan
Menurut laporan Badan Kepegawaian Negara (BKN), Indonesia mencatat skor tinggi dalam kebebasan berpendapat dan transparansi tata kelola pemerintah di antara negara-negara ASEAN. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan dalam pengelolaan ASN, terutama dalam menciptakan sistem birokrasi yang lebih terbuka dan akuntabel. Transparansi dalam tata kelola ASN menjadi salah satu fokus utama pemerintah, terutama untuk mencegah praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Dengan sistem meritokrasi yang semakin diterapkan, proses rekrutmen dan promosi ASN kini lebih berbasis pada kompetensi dan kinerja, daripada hubungan personal atau politik.  Namun, meskipun pencapaian ini patut diapresiasi, masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan. Misalnya, tata kelola yang baik harus diiringi dengan pengawasan yang ketat agar transparansi benar-benar berjalan di seluruh lini birokrasi, bukan hanya di tingkat pusat tetapi juga hingga daerah.  

Ancaman Radikalisme ASN
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi ASN saat ini adalah ancaman radikalisme. Seperti yang disampaikan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (KemenPAN-RB), radikalisme menjadi salah satu dari tiga tantangan utama bangsa yang harus dilawan oleh ASN.  Sebagai pelayan publik, ASN tidak hanya bertugas menjalankan kebijakan, tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai kebangsaan. Wakil Menteri Agama, Zainut Tauhid Sa'adi, menegaskan bahwa ASN adalah garda terdepan dalam moderasi beragama. Ini berarti, ASN memiliki tanggung jawab untuk menjaga keberagaman dan mencegah penyebaran ideologi radikal yang dapat merusak persatuan bangsa.  Namun, fakta di lapangan menunjukkan bahwa ancaman radikalisme masih menyusup ke dalam tubuh ASN. Beberapa kasus menunjukkan adanya ASN yang terpapar paham-paham ekstrem. Hal ini menjadi alarm bagi pemerintah untuk terus memperkuat program deradikalisasi dan meningkatkan literasi kebangsaan di kalangan ASN.  

Menuju Tata Kelola yang Baik
Untuk menghadapi tantangan besar ini, tata kelola yang baik dan transparansi dalam birokrasi menjadi kunci utama. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil untuk memperkuat ASN sebagai pilar pemerintahan yang bersih dan tangguh:  
Meningkatkan Pengawasan dan Akuntabilitas: Pemerintah harus memperkuat sistem pengawasan terhadap ASN, terutama dalam hal integritas dan kepatuhan terhadap nilai-nilai kebangsaan. Pengawasan ini dapat dilakukan melalui audit internal dan eksternal yang lebih ketat. Program Pendidikan dan Moderasi Beragama: ASN harus dibekali dengan literasi kebangsaan dan program moderasi beragama secara berkelanjutan. Seperti yang dikatakan oleh Wamenag, ASN perlu menjadi teladan dalam menjaga keberagaman dan menolak ideologi radikal.  Digitalisasi Tata Kelola ASN: Penggunaan teknologi digital dalam pengelolaan ASN dapat meningkatkan transparansi dan mengurangi potensi penyimpangan. Misalnya, sistem rekrutmen dan evaluasi kinerja berbasis digital dapat memastikan proses yang lebih adil dan terbuka.  Sanksi Tegas terhadap ASN yang Melanggar: ASN yang terbukti terpapar radikalisme atau terlibat dalam tindakan tidak transparan harus diberikan sanksi tegas. Hal ini penting untuk menjaga integritas institusi pemerintahan dan memberikan efek jera.  

Kesimpulan
Aparatur Sipil Negara adalah kunci dalam menciptakan tata kelola pemerintahan yang baik dan transparan. Dengan skor transparansi yang tinggi di tingkat ASEAN, Indonesia telah menunjukkan kemajuan yang signifikan. Namun, tantangan seperti radikalisme dan praktik birokrasi yang tidak efisien masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah. Untuk itu, langkah-langkah seperti penguatan pengawasan, pendidikan kebangsaan, dan digitalisasi tata kelola harus terus dilakukan. ASN tidak hanya dituntut untuk menjalankan tugas administratif, tetapi juga menjadi penjaga nilai-nilai kebangsaan dan transparansi dalam pemerintahan. Dengan komitmen yang kuat, ASN Indonesia dapat menjadi pilar yang kokoh dalam membangun bangsa yang lebih maju, bersatu, dan berkeadilan. 
 
sumber berita
bkn 

04 August 2021

Covid-19 Anak Indonesia


 

kid
Anak di Indonesia

  Laporan UNICEF Tahun 2021
 

1.Pendapatan Turun

Tiga dari Empat Rumah Tangga di wilayah Indonesia mengalami trend penurunan pendapatan, dengan penurunan terbesar dialami oleh mereka yang tinggal di perkotaan.(78,3% rumah tangga perkotaan mengalami penurunan pendapatan. Dari: UNICEF, UNDP, Prospera, dan SMERU, Analisis Dampak Sosial dan Ekonomi COVID-19 terhadap Rumah Tangga dan Rekomendasi Kebijakan Strategis untuk Indonesia, Jakarta, 2021)


2. Populasi Anak Indonesia

Jumlah Anak dan Remaja yang jatuh ke dalam kemiskinan akibat pandemi COVID-19 terlihat "LEBIH BESAR" daripada kelompok usia lain. Anak berusia di bawah 18 tahun berjumlah 33%, setara dgn 40% penduduk yg jatuh miskin thn 2020  (UNICEF dan Badan Kebijakan Fiskal, Dampak COVID-19 terhadap kemiskinan dan mobilitas anak di Indonesia, Risalah kebijakan, Jakarta, 2021)

 

3. Risiko Putus Sekolah =  Resiko praktik berbahaya di kalangan anak dan remaja

Sebagian Rumah Tangga (3,45 persen) melaporkan telah setidaknya memiliki satu anak putus sekolah (UNICEF, UNDP, Prospera, dan SMERU, Analisis Dampak Sosial dan Ekonomi COVID-19 terhadap Rumah Tangga dan Rekomendasi Kebijakan Strategis untuk Indonesia, Jakarta, 2021)


Ketiga hal di atas sudah menjadi Program Nasional kita di era beberapa Presiden Indonesia sebelumnya. Pandemi Covid-19 memperjelas bagaimana "tingkat lalai" kita pada hak-anak. Unicef meneriakkan perlunya sebuah upaya pemulihan COVID-19 yang lebih berfokus pada anak, namun Program (Vaksinisasi atau Pembelajaran Tatap Muka Sekolah) baru berbicara pada level Masker, Cuci-Tangan dan Jaga-Jarak.

Kantor Unicef tidak berisikan Superman dan Superwoman, mereka sama seperti kita, tidak ada kelebihan (kualifikasi) mereka yg tidak bisa dicapai oleh kita di sini. Salah satu, kemungkinan, yg perlu di-contoh adalah bagaimana Membuat Laporan dengan dukungan data valid.